Eko Hadi Prasetiyono

Januari 30, 2009

Iman Nurhidayat Ulang Tahun ke 2

Filed under: Umum — ekohadip @ 10:27 p

foto010Kemarin, 29 Januari 2009, hari ulang tahun kelahiran anak saya yang ke dua, Iman Nurhidayat. Dengan adanya ulang tahun ini, walaupun seperti biasa di tempat kami, tidak ada perayaan ulang tahun apalagi pesta pora, yang ada hanya ucapan ulang tahun dan syukur kepada Allah bahwa si Iman sudah dua tahun.

Saya teringat dengan waktu kelahiran si Iman ini. Dulu, dua tahun yang lalu, sekitar jam 15.00. Gawit, ya ibune anak-anak saya itu, merasakan sudah tiba saatnya melahirkan. Segala persiapan pakaian yang berhubungan persalinan sudah dikemas beberapa hari bahkan beberapa minggu sebelumnya. Sehingga ketika saat kelahiran sudah hampir datang kita tinggal berangkat begitu saja.

Pertimbangan karena kelahiran anak pertama, Pious Meilina (Piyo), lancar tanpa hambatan yang berarti, maka diputuskan untuk anak yang kedua ini pelaksanaan persalinan cukup di tempat bidan saja, tidak ke rumah bersalin seperti si Piyo. Bidan Tien Achyar di Puhrejo Tl.Rejo, terpilih untuk membantu proses kelahiran si Iman ini karena dekat dengan rumah.

Setelah berkemas, kami diputuskan berangkat bertiga naik sepeda motor. Bertiga,(Gawit, saya dan Piyo) berangkat ke rumah  bidan Tien, begitu terkenalnya. Sesampai di sana langsung diperiksa, bukaan masih dua. Sementara Ibunya masuk ke ruang bersalin, Piyo dan saya menunggu di luar dan bermain. Kami menunggu di luar karena diperkirakan masih butuh waktu yang lama.

Setelah menunggu dengan penuh rasa gembira dan khawatir, akhirnya pada jam 17.00 diberitahu sudah bukaan delapan. Saya dipersilakan masuk menunggui kelahiran kalau tatag (berani). Ya, tidak semua suami tatag untuk menunggui sang istri melahirkan makanya ditawari kalau tatag. Karena merasa tatag dan sudah menjadi kewajiban suami untuk memberi dorongan semangat serta doa disamping istri yang sedang melahirkan, saya menunggui bahkan memberi dorongan di bagian kepala. (Karena di bagian lain merupakan tempat bidan dan perawat-he he he). Ini kelebihan dari melahirkan di tempat bidan, suami diperbolehkan menunggui istri yang melahirkan. Beda dengan waktu kelahiran Piyo, dokter melarang saya menunggui proses kelahiran si Piyo.

Saat menunggui itu saya tidak bisa sepenuhnya di dalam, saya juga harus memperhatikan si Piyo yang berada di luar kamar bersalin. Nah, pada jam 17.20 saya masuk ke kamar lagi. Proses kelahiran si jabang bayi sudah semakin dekat. Si Piyo terpaksa saya tinggal di luar sendirian. Si Piyo memang anak yang pintar, ditinggal di luar tidak menangis.

Di saat menjelang kelahiran, Bu Tien (Bu Bidan) memperkirakan bobot bayi sekitar tiga kilogram. Berarti lebih kecil dari si Piyo dulu waktu lahir berbobot 3,8kg. Melihat proses persalinan yang begitu menegangkan. Bagaimana tidak menegangkan, lha wong jerit tangis kesakitan yang begitu nampak di derita oleh si ibu begitu mengerikan. Pastas rasanya kalau dikatakan bahwa meninggal dunia waktu melahirkan mendapat pahala sebagai meninggal yang syahid. Berbagai macam doa kuucapkan sholawat tidak lupa saya bisikkan ke kedua telinga si ibu yang sedang meronta menahan sakit dan berusaha sekuat tenaga demi  kelahiran si jabang bayi. Istri saya memang hebat, di dalam usaha untuk melahirkan itu merontanya dengan mengucap istighfar dan sholawat serta doa kepada Allah. Pada jam 17.35 lahirlah si Iman dengan selamat, perjuangan yang begitu hebat selesai sudah. Namun ada yang berbeda dengan perkiraan bidan, ternyata si Iman bobotnya lebih berat, Iman terlahir dengan bobot 4,3 kg. Selamat dan terima kasih pada istriku. Puji Syukur Alhamdulillah Pada Allah atas semua anugerah dan nikmat yang diberikan pada kami.

Mungkin karena mendengar suara ibunya meronta, menangis dengan keras disertai jerit tangis bayi yang juga keras itulah si Piyo yang berada di luar sendirian jadi ikut menangis. Karena proses kelahiran sudah selesai, si Piyo diperbolehkan masuk ke kamar bersalin. Begitu gembira kami menerima kehadiran buah hati yang kedua ini.

Setelah semuanya bersih baik ibu maupun si bayi akhirnya dibawa ke kamar perawatan. Saat itulah saya mulai memberi kabar pada semua anggota keluarga. Ucapan selamat lewat telepon genggam datang silih berganti. Keluarga, sahabat, tetangga mulai berdatangan. Begitu gembira menyambut kelahiran si Iman Nurhidayat.

Selamat Ulang Tahun Anakku. Semoga selalu dalam petunjuk dan lindungan Allah dengan Iman dan Islam. Semoga menjadi orang yang berilmu, bergelimang kekayaan harta benda dan kaya hati serta bermanfaat dimanapun anakku berada. Semoga dijauhkan dari bencana dan gangguan baik syetan maupun manusia. Menjadi insan mulia di mata Allah dan manusia.

2 Komentar »

  1. waah…
    adek iman Happy B’day ya…

    Komentar oleh dewi — Februari 1, 2009 @ 9:11 p | Balas

    • Thanks mbak Dewi

      Komentar oleh ekohadip — Februari 3, 2009 @ 12:27 p | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: