Eko Hadi Prasetiyono

Januari 4, 2009

Balada Gigi

Filed under: Ide yang baru muncul — ekohadip @ 1:28 p

bali_02 Waduh sakit banget, ngilu atau apapun yang pernah anda rasakan dengan gigi anda. Saya tidak tahu pasti sebutan yang tepat selain sakit gigi. Ya sakit gigi. Walaupun kalau kita (yang pernah merasakan sakit gigi) rasakan sesungguhnya bukan giginya yang sakit. Hal ini tidak perlu menjadi perdebatan. Okay?

Kalau misalnya kita merasakan gigi kita sakit, kemudian kita periksakan ke dokter. Setelah memeriksa gigi-gigi kita Dokter memberitahukan,”Woo ini ada gigi yang sebelah kiri ada yang berlubang, di celah-celah gigi makanya tidak nampak dari depan”.

“Dicabut saja dokter, sering ngilu rasanya, terutama ketika cuaca dingin” Mungkin itu yang sering kita minta kepada dokter merespon apa yang disampaikan.

“Jangan! ini masih bagus, kalau dicabut anda akan ompong satu gigi. Karena ini masih bagus, kita pertahankan. Ditambal. Bagaimanapun gigi asli pasti lebih baik daripada gigi palsu.

Itulah sepenggal dialog yang biasa terjadi antara Dokter gigi dengan pasiennya.  Saya mempunyai  pengalaman dengan gigi. Ya pegalaman pribadi saya.

Dulu ketika masih mahasiswa,  saya sering memeriksakan gigi ke dokter. Walaupun tidak sakit, saya rutin memeriksakan gigi ke dokter gigi, atau paling tidak asisten dokter gigi. Ini rutin saya lakukan paling tidak enam bulan sekali. Karena tempat tinggal (kost) saya dekat dengan Kampus Kedokteran  Gigi dan di sini sering mengadakan pemeriksaan dan pengobatan atau perawatan gigi secara gratis. Sebagai penerapan salah satu tri dharma perguruan tinggi sekaligus ajang praktek bagi calon dokter gigi.

Saya masih ingat betul ketika menjalani pemeriksaan gratis itu. Ada komentar dokter gigi yang menyatakan bahwa gigi saya sempurna, bagus.

Nah! karena terlena dengan kesan yang disampaikan dokter gigi tersebut, setelah lulus, saya tidak pernah rutin memeriksakan gigi saya. Di sini tidak ada yang gratis seperti waktu masih kost dulu, sih. (He he maunya gratis melulu!). Akibatnya saya mengalami kerusakan gigi.

Pertama, sekitar tahun 2001, Saya mengalami rasa ngilu pada gigi sebelah kanan atas. Saya periksa sendiri, tidak ada yang berlubang. Tapi ketika minum minuman dingin, terutama yang bercampur dengan es, ngilunya tidak bisa hanya dibayangkan tapi dirasakan. Wuiiiih ngilu pooool!. Begitu juga ketika cuaca dingin.

Akhirnya saya periksakan ke Dokter gigi M (saya tulis inisialnya saja, karena ini bukan acara adsense, hi hi hi). Ketika melihat gigi-gigi saya Dokter Gigi M pun punya kesan yang sama dengan Dokter Gigi yang memeriksa saya secara gratis itu.  Dokter Gigi M setelah lama memeriksa  gigi-gigi saya, akhirnya menemukan lubang kecil di gigi atas sebelah kanan.

“Cabut, atau ditambal? Kalau ditambal akan kambuh lagi suatu saat. Kalau dicabut tidak akan sakit lagi karena penyebabnya sudah hilang.”  Begitu kata Dokter Gigi M. simple dan mengena!

Setelah berpikir agak lama, karena harus saya pertimbangkan dampaknya. Dokter M ini memberitahu saya untuk tidak memikirkan biaya, yang penting sehat dulu. Jadi saya tidak memikirkan biaya karena dokter ini tidak memaksa harus membayar saat  itu juga. Boleh mencicil kapanpun saya suka. (Saya sudah membuktikan omongan Dokter ini  pada periode yang lain, karena saya  menjalani bedah mulut).

Akhirnya saya putuskan untuk dicabut, gigi yang berlubang kecil itu.  Gangguan ngilu gigi tidak tejadi lagi. Aman.

Pada beberapa tahun terakhir, ganti gigi kiri sebelah atas yang ngilu. Saya bawa ke Dokter Gigi M. Kali ini saya tidak minta dicabut, cukup ditambal saja. Dokter M menuruti kemauan saya. Jadilah gigi saya ditambal.

Selang beberapa bulan, tambalan ada yang lepas. Jadi ngilu lagi. Kali ini saya pindah ke Dokter Gigi B. Oleh Dokter B diberitahu,”Sepanjang masih bisa dilakukan perawatan walaupun dengan menambal sebaiknya ditambal”. Dan ditambal lagi gigi saya. Pasti melalui proses sebelum dilakukan penambalan. Aman lagi gigi saya.

Setelah beberapa bulan tidak mengalami gangguan pada gigi. Bulan lalu. Gigi saya yang sudah mengalami dua kali penambalan, pecah. Lubang lagi gigi saya. Rasa ngilu sedikit tidak saya hiraukan, saya punya obat aneka penyakit termasuk penahan rasa ngilu. Namun pada awal tahun 2009 lalu, malam tahun baru. Ada kejadian yang bikin ngilu tidak bisa dibendung lagi, ketika makan kacang ada pecahan kacang yang masuk ke lubang gigi,  ngilu hebat jadinya. Bisa saya redam tapi sebentar muncul lagi.

Akhirnya tadi malam saya putuskan untuk ke Dokter Gigi B. Saya sampai di tempat praktek Dokter B jam 18.00. Setelah dibius lokal saya dipersilakan menunggu di luar sambil menunggu merasuknya obat bius lokal itu. Jam 19.00 dipanggil masuk untuk menjalani proses pencabutan gigi.  Begitu lama. Saya teringat ketika menjalani pencabutan yang pertama. Sama sulit dan membutuhkan waktu yang lama. Aneka alat silih berganti digunakan. Termasuk beberapa kali dilakukan pemotongan dengan menggunakan bor gigi.  Dan akhirnya akar pertama bisa dicabut, ah lega.

Ternyata belum selesai. Pengeboran lagi, pemotongan lagi dan akar kedua dan ketiga akhirnya bisa terangkat juga. Alhamdulillah. Selesai jam menunjukkan pukul 20.45.  Waktu yang lama untuk mencabut sebuah gigi.  Sekarang Gigi saya yang nomor enam juga sudah tidak bersama saya lagi.

Mari kita syukuri  diri kita. Kita rawat sebaik mungkin. Baik fisik maupun psikis kita. Jiwa dan Raga kita. Badan dan ruh kita. Jangan sampai tejadi seperti pada gigi-gigi di atas, dibuang karena sudah tidak menguntungkan tetapi sebagai sumber rasa sakit.

Semoga bermanfaat. Maaf maaf kalau ada yang kurang berkenan.

6 Komentar »

  1. Wah…wah… bukan memuji lho ya, aku jadi intropeksi diri, ada banyak makna yang tersurat dan tersirat, mudah-mudahan gigi kita tetap jadi gigi yang sehat. Biar ndak seperti gigi yang tercabut. Jujur aja aku memang orang yang ndak pernah periksa rutin ke dokter gigi. Maju terus brooooooo

    Komentar oleh Slametsmansa — Januari 6, 2009 @ 1:00 p | Balas

    • Let’s keep our teeth clean

      Komentar oleh ekohadip — Januari 7, 2009 @ 1:00 p | Balas

    • Two thumbs Up!

      Komentar oleh ekohadip — Januari 7, 2009 @ 1:06 p | Balas

  2. Peh… suuereeem tenan, pak… waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!

    Komentar oleh Rofiul Hadi — Januari 16, 2009 @ 5:45 p | Balas

    • Pesan implisitnya “Kita sebagai manusia mari berusaha berbuat sebaik mungkin, sehingga kita menjadi manusia yang bermartabat dan bermanfaat. Bukan malah menjadi beban masyarakat.”

      Komentar oleh ekohadip — Januari 16, 2009 @ 8:34 p | Balas

  3. Mencegah lebih baik daripada mengobati.. nggih mboten, pak?😀

    Komentar oleh Rofiul Hadi — Januari 16, 2009 @ 5:49 p | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: